Semarang – Organisasi Pariwisata Dunia menyatakan bahwa industri pariwisata menjadi salah satu sektor terbesar dan paling cepat berkembang di dunia. Kunjungan wisatawan diperkirakan akan mencapai 1,8 miliar pada tahun 2030, dengan menghasilkan devisa $ 1,03 miliar. Kemajuan pariwisata selain berdampak positip bagi ekonomi, juga memiliki potensi menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan alam sehingga perlu diterapkan sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan, yaitu pariwisata yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan serta tidak merusak alam dan budaya masyarakat setempat sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Purwaningsih melalui penelitiannya tentang pengukuran keberlanjutan destinasi wisata di Jawa Tengah dan sekitarnya pendanaan DRPM Kemdikbud mempublikasikan hasil penilaian tersebut dalam bentuk penyajian data berbasis web (google maps). Destinasi wisata yang menjadi obyek riset adalah 3 destinasi wisata alam/landscape yaitu Taman Bunga Celosia Bandungan, Kabupaten Semarang; Lokawisata Baturaden Purwokerto dan Kampung Pelangi Kota Semarang. Pengolahan data dilakukan dengan Rap-tour yang merupakan pengembangan dari Rap-fish. Kemudian juga dikembangkan alat ukur untuk keberlanjutan wisata sejarah dengan obyek Museum Trinil dan Museum Sangiran dan diolah dengan metode composite index. Wisata sejarah lainnya adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan (sedang dalam proses penelitian).

Berikut manual book dan gambar pemetaannya.